Kampanye : Bukan Saat untuk Jual Kecap

KOMPAS Jabar, Hal A – Senin, 2 Agustus 2010

Belum pernah ada perajin yang bilang kecap buatannya nomor dua. Mereka pasti berkoar-koar bahwa kecapnya adalah kecap nomor satu. Akan tetapi, siapa yang tahu rasa asli kecap si perajin jika tidak benar-benar mencicipi.

Masa kampanye, 31 Juli-14 Agustus 2010, adalah waktu bagi pasangan calon bupati dan wakil bupati Indramayu untuk mempromosikan diri. Mereka menawarkan, atau lebih tepatnya menjanjikan sederet visi, misi, dan program kerja, apabila dipilih. Ujung dari janji menyejahterakan rakyat Indramayu adalah keterpilihan mereka.

Menurut Acep Syahril, pemerhati budaya di Indramayu, pemilih harus lebih waspada, terutama pemilih pemula dan pemilih perempuan yang rentan terpengaruh. Suara mereka diperebutkan, sedangkan mereka sendiri belum memahami pentingnya suara mereka untuk kesejahteraan lima tahun ke depan.

Apabila dibedah, masalah di Indramayu menumpuk dan kompleks. Masalah yang paling jelas terlihat adalah rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat, minimnya lapangan kerja, buruknya infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi yang stagnan. Dilihat dari indeks pembangunan manusia (IPM), Indramayu termasuk daerah dengan IPM terendah di Jawa Barat, yaitu hanya 66,78 persen.

Walaupun anggaran untuk pendidikan sudah 30 persen dari APBD, masih banyak sarana-prasarana sekolah yang tidak layak, rata-rata lama sekolah hanya 5,5 tahun, dan angka melek hurufnya hanya 85,6 persen. Adapun angka harapan hidup penduduk 66,01 tahun.

Problematika pengangguran tak lain disebabkan sedikitnya lapangan kerja. Diperkirakan jumlah tenaga kerja riil asal Indramayu mencapai 20.000 orang, sedangkan yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja Indramayu hanya sepertiganya. Sedikitnya tercatat 78.200 penduduk berusia 15-60 tahun menganggur.

Ironi

Padahal, ada segudang potensi alam yang terbentang di Indramayu. Luas hamparan sawah yang mencapai 108.000 hektar belum tergarap optimal sebagai sumber ekonomi pedesaan. Ironisnya, meski termasuk lumbung padi nasional karena mampu surplus beras 400.000 ton per tahun, sekitar 35 persen keluarga di Indramayu tergolong miskin dan butuh bantuan beras tiap bulan.

Budidaya hortikultura juga belum dipahami petani sebagai sumber penghasilan lain pada musim kemarau. Garis pantai yang panjang belum dimanfaatkan, baik untuk budidaya perikanan dan kelautan maupun pariwisata.

Nelayan masih mengandalkan hasil tangkap di laut, sedangkan budidaya di pesisir laut, seperti kerang hijau atau rumput laut, belum tergali. Penduduk setempat juga belum menikmati potensi minyak dan gas Indramayu.

Teliti sebelum membeli sepertinya merupakan jurus jitu memastikan kebenaran janji pembuat kecap. Seperti itu pula jurus yang perlu diterapkan saat memilih calon pemimpin, dengan menyaring semua janji manis para calon. Pesan singkatnya, “Awas, jangan salah pilih!” (Timbuktu Harthana)

This entry was posted in Berita Pilkada. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s